Tembung Camboran: Pengertian, Jenis & Contoh Kalimatnya

Pernah mendengar makanan Nagasari? Tahukah Anda bahwa kata tersebut ternyata merupakan gabungan dua kata antara naga dan sari yang berasal dari bahasa Jawa. Tembung camboran adalah kosa kata bahasa Jawa yang menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kesatuan gramatikal. Kosakata ini merujuk pada kata majemuk dalam bahasa Indonesia dan idiom yang maknanya telah digabung dan diciptakan dengan menyatukan kata-kata secara keseluruhan atau dalam singkatan.

Ada berbagai jenis tembung. Berdasarkan jenisnya, kosakata ini dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu camboran tugel dan camboran wutuh. Sementara itu, menurut tujuan dan maknanya yaitu berarti camboran tunggal dan wudhar. Berikut ini adalah penjelasan mengenai jenis camboran tembung beserta contohnya untuk membantu anda lebih memahaminya.

Jenis Tembung Camboran Beserta Contohnya

Jika Anda masih bingung, coba perhatikan penjelasan jenis beserta contoh kosakatanya dibawah ini. 

  1. Tembung Camboran Wutuh

Kata camboran wutuh adalah frasa atau istilah bahasa Jawa yang terdiri dari dua kata yang bercampur menjadi satu tanpa pengurangan suku kata (kata-kata itu masih utuh). 

Adapun bentuk-bentuk kosa kata camboran wutuh sebagai berikut: 

  • Rerangkep Determinatif (DM)

Ekspresi verbal yang menggambarkan suatu objek secara keseluruhan secara tegas direklasifikasi. Meja, sandal jepit, etalase toko, bunga kanthil, buku bergambar, villa, tongkat hitam dan koboi hanyalah beberapa contohnya.

  • Baliswara (kelas MD)

Baliswara adalah gambaran objek yang disahkan sebelum istilah yang akan dijelaskan. Pancasila, panduputra, dasa dharma, bimaputra, wijaya kusuma dan dwiwarna adalah contoh lainnya.

  • Tembung Saroja

Saroja merupakan gabungan dari dua kata yang memiliki arti yang hampir sama. Contoh tembung camboran yaitu rendah hati, branang saudara, lingkaran seser, menthik kecil dan kekerasan.

  • Yogyaswara

Yogyaswara terdiri dari dua kata, yang pertama berakhiran “a” dan kata kedua mengandung bunyi I yang berarti “wanita” dan “pria”. Dewi, putra-putri, pemuda, siswa dan kedhana-kedhini adalah beberapa contohnya.

  • Tembung Kosok Balen (Berlawanan/Lawan Kata)

Contoh tembung camboran yaitu kecil besar, jantan betina, panjang rendah, tua muda, sangat dekat, ayah ibu dan tinggi rendah.

  • Tembung Nunggal (Misah)

Kata tunggal terdiri dari dua kata yang memiliki arti berbeda tetapi sering digunakan secara bergantian. Misalnya seperti brokoli bawang bombay, cabai asin, kursi meja, salam Laos, klasa bantal, kencur kemukus, merica pala.

  1. Tembung Camboran Tugel

Ungkapan camboran tugel adalah kata atau istilah bahasa Jawa yang menggabungkan dua kata menjadi satu dengan jumlah suku kata yang sedikit, yang dapat berupa suku kata depan atau suku kata belakang. Berbagai ejaan dari istilah camboran tugel antara lain:

  • Tembung Garba

Contoh:

  • Prapta ditambah ing sama dengan prapteng
  • Nara ditambah pati akan menggabungkan narapati.
  • Iya dan iku sama dengan yeku
  • Parama digabungkan dengan Iswara yaitu prameswari
  • Sure ditambah ing menjadi sureng 
  • Idu dan abang akan menghasilkan dubang
  1. Tembung Yang Dikerata 

Contoh:

  • Lunglit = Balung + kulit
  • Guru = digugu + ditiru
  • Wedang = gawe + kadang
  • Kupluk = kaku + cempluk
  1. Akronim

Contoh:

  • Sekdes mengacu pada sekretaris desa.
  • Kabag menunjukkan kepala bagian.
  • Pilpres merujuk kepada pemilihan presiden.

Sementara itu, camboran tembung dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis berdasarkan tujuannya. Berikut beserta dengan contohnya juga.

  1. Tembung Camboran Tunggal

Tembung camboran Tunggal adalah kata atau istilah dalam bahasa Jawa yang terdiri dari dua kata yang berbeda makna yang digabungkan menjadi satu, namun salah satu istilah tersebut tidak dapat dipisahkan karena memiliki arti baru. Contoh tembung iki yaitu nagasari, semar mendhem, endhas borok, dan randha royal.

  1. Tembung Camboran Wudhar

Tembung camboran wudhar adalah ungkapan atau istilah bahasa Jawa yang terdiri dari dua kata yang berbeda makna yang digabungkan menjadi satu tetapi memiliki makna yang sama. Contohnya yaitu meja, wayang golek, piring beling, dan pasar malam.

Baca Juga : Begini Cara Mudah Login Sispena Untuk Sekolah Madrasah

Nah, itu dia kira-kira penjelasan mengenai kosa kata yang berasal dari bahasa Jawa tersebut. Semoga artikel ini memberikan Anda pengetahuan baru yang bermanfaat.

Leave a Comment