Rebo Wekasan: Sejarah, Amalan, Doa & Cara Niat Shalat

Rabu terakhir dalam penanggalan Jawa bulan Sapar dikenal sebagai Rebo Wekasan. Beberapa aksi yang dilakukan pada hari ini, antara lain tahlilan, berbagi makanan berupa gunungan, serta penebusan dan shalat berjamaah sunnah lidaf’il bala (menolak bala). Namun, shalat sunnah lidaf’il bala sudah mulai berkembang di beberapa kalangan, dengan usulan agar tidak lagi dimaksudkan untuk memperingati Rebo Wekasan, melainkan sebagai shalat sunnah seperti shalat lainnya.

Selama ribuan tahun, masyarakat Jawa, Sunda, Madura dan lain-lain telah mempraktekkan adat ini. Ritual Rebo Wekasan biasanya berbentuk doa penolakan atau lidaf’il bala, yaitu berdoa dengan doa tertentu sampai selamat. Orang-orang di Serang biasanya melakukan ketupat dan menggigil. Saat melakukan upacara doa, kebanyakan orang membawa air.

Air minum kemudian dikonsumsi dan bahkan ditaburkan di sekitar rumah untuk mencegah bencana. Shalat sunnah lidaf’il balaa mulai berubah di beberapa kalangan, dengan anjuran tidak lagi dimaksudkan untuk memperingati hari Rabu terakhir tersebut, melainkan untuk dijadikan shalat sunnah seperti shalat lainnya.

Sejarah Rebo Wekasan

Sejarah ini berawal dari adanya sebuah upacara adat yang dilakukan di tempat bertemunya dua sungai atau tempat tempuran. Sungai tersebut bernama sungai Gajah Wong dan sungai Opak. Namun, pada saat itu ada mitos Sultan Agung mengadakan pertemuan dengan penguasa pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Oleh sebab itu, untuk menghindari hal negatif, upacara adat tersebut dipindahkan kedalam acara dengan arak-arakan dan prosesi Gunungan Lemper.

Rebo wekasan adalah rangkaian festival tradisional Safarian yang akan berlangsung hingga Jumat Kliwon di bulan Maulid (Mulud). Di daerah Cilacap, upacara ini bernama Sedekah Ketupat. Sedangkan di daerah Sunda memiliki nama yang berbeda pula yaitu Babarit. Hari ini unik karena merupakan satu-satunya hari di mana upacara tradisional tidak bergantung pada hari pasar dan neptu. Catatan sangat penting dalam tradisi hari pasar Kejawen dan neptu untuk keselamatan dan berkah acara. Dikatakan bahwa 320.000 sumber penyakit dan 20.000 bencana akan tiba pada hari ini. Akibatnya, upacara khas pada hari ini adalah penolakan bala bantuan.

Amalan Rebo Wekasan

Amalan Rebo Wekasan menganjurkan para umat Muslim untuk membaca doa lidaf’il bala dan membaca doa untuk menolak bala, antara lain. Tujuannya adalah untuk memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai bencana. Pada Rabu Wekasan, umat Islam dapat melakukan berbagai amalan. Ini adalah saran daripada persyaratan atau sunnah.

Doa Rebo Wekasan

Berikut ini adalah doa Rabu Wekasan yang dipanjatkan selama minggu terakhir bulan Safar, sebagai amalan. Ditulis dalam terjemahan bahasa Indonesia.

“Beserta menyebutkan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya setiap saat. – Ya Allah yang maha kuasa dan maha kuasa. Selamatkan aku dari kejahatan makhluk mu, kamu yang telah dihina oleh semua makhlukmu. Terima kasih, Tuhan Yang Maha Esa. Siapa yang memberikan keindahan, kebajikan, kegembiraan dan kemuliaan? Tiada Tuhan selain Engkau, ya Allah. Engkau, Wahai Yang Maha Penyayang, kasihanilah aku dengan rahmat. Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, serta kakek dan ayahnya, ibu dan keturunannya, lindungilah aku dari kejahatan hari ini dan kejahatan yang akan menimpanya. ‘, Cukuplah Allah, Pemelihara, Yang Maha Mengetahui, untuk mengurus semuanya. Cukuplah Allah untuk kita andalkan, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Agung. Dan semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. bersama keluarga dan teman-temannya.

Shalat Rebo Wekasan

1. Shalat Hajat lidaf’il bala

Sholat ini dilakukan empat kali, masing-masing dengan dua tahiyat dan salam. Apabila sudah selesai membaca surat Al-Fatihah, Anda dapat melanjutkannya dengan membaca Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Al-Ikhlash 5 kali, Al-Falaq 1 kali dan An-Nas 1 kali. Hal ini menunjukkan bahwa setiap rokaat membaca semua surat tersebut.

2. Membaca Doa Penolakan Shalat Empat Rakaat

Beberapa orang yang ma’rifat kepada Allah menyatakan bahwa tiga ratus dua puluh ribu bencana akan terjadi setiap tahun, yang semuanya akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Safar, menjadikan hari itu sebagai hari terberat dalam setahun, menurut buku Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir.

Menurut kitab tersebut, siapa saja yang shalat 4 rakaat pada hari itu, membaca al-Fatihah 1 kali, Surat al-Kautsar 17 kali, Surat al-Ikhlash 15 kali, dan mu’awwidhatayn 1 kali dalam setiap raka’at, maka berdoa doa berikut, Allah akan melindunginya dari semua bencana yang akan menimpa hari itu.

Hukum Shalat Rebo Wekasan

Para ulama berpendapat bahwa tidak ada nalar masyru’ah atau syar’i yang mengharuskan shalat sunnah dilakukan pada hari Rabu Wekasan. Menurut laman PISS-KTB, Hadratus Syekh KH Hasim Asy’ari, pendiri NU, dilarang memimpin shalat Wekasan Rebo. Karena tidak ada dalil dalam syara’ dan tidak ada dalil syar’i dalam syara’. Menurut @ushul fiqih, Syekh Zainuddin Al-Malibari melihat shalat Rebo Wekasan”sebagai bid’ah, namun menawarkan jalan tengah dengan mengganti shalat sunnah yang mutlak.

Leave a Comment