Perbedaan Majas Sinisme Dengan Majas Sarkasme

Majas Sinisme adalah gaya bicara yang mengejek secara langsung tanpa ada basa-basi terlebih dahulu.  Sinisme adalah kebalikan dari majas ironis, yang menggunakan frasa yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya diungkapkan. Misalnya, wajahmu terlihat sangat kumel seperti anak terlantar!

Menurut Keraf (2010, hlm. 143), sinisme adalah gaya bahasa satir berupa keraguan yang menyiratkan penghinaan yang tulus dan tulus. Intinya adalah bahwa, meskipun kiasan ini tampak kasar, itu memang mengungkapkan sesuatu yang tulus dan langsung untuk dikatakan.

Sementara itu, Nurdin, Maryani dan Mumu (2004, hlm. 27) mengemukakan bahwa majas sinisme adalah bahasa humor yang dibuat lebih luas dengan wahyu. Pengucapan grande di pengrajin dibuat lebih jelas dari makna yang ingin disampaikan.

Misalnya, jika Anda ingin mengkomunikasikan bahwa seseorang lebih gemuk dari sebelumnya, Anda dapat membandingkannya dengan tong atau benda besar lainnya. Majas ini kadang-kadang digunakan bersama dengan kiasan lain, seperti simile dan metonimi.

Intinya majas sinisme adalah gaya bicara satir dengan bahasa langsung yang dapat ditambah dengan pernyataan yang tetap mengarah pada makna yang sebenarnya, sehingga menghasilkan sindiran tulus (konstruktif) yang lebih mengejutkan.

Fungsi Majas Sinisme

Ada kalanya hal-hal perlu dinyatakan dengan jelas. Apapun metode komunikasi yang ideal, pada akhirnya harus disampaikan langsung dan tidak ambigu. Frasa tidak dapat digunakan dalam setiap tulisan atau teks, terutama jika pembaca tidak mengetahui jenis ekspresinya.

Akhirnya, manusia tidak dapat mengetahui pendapat orang lain jika tidak mengungkapkannya dengan jujur. Ada kalanya Anda perlu menyimpan kata-kata Anda untuk diri Anda sendiri dan ada kalanya Anda perlu berbicara secara terbuka. 

Ketika Anda tidak mengatakan sesuatu secara langsung, itu bisa menjadi agresif pasif. Betapapun mulianya niat Anda, diam atau berbohong pasif tidak akan menyelesaikan masalah. Sedangkan pada periode revolusi industri keempat ini, pemecahan masalah merupakan salah satu syarat yang paling penting.

Namun, pada akhirnya, sang pengungkap memutuskan apakah akan menggunakan cara sinis atau tidak. Ada kemungkinan bahwa beberapa orang memilih untuk menggunakan kiasan ironis karena memungkinkan sindiran yang lebih halus atau indah. Inilah fungsi dari majas ini untuk sampai pada kesimpulan yang jelas.

Contoh Majas Sinisme

Berikut beberapa kalimat yang mengandung majas sinisme. Ingatlah selalu bahwa tujuan dari majas ini adalah untuk menyampaikan hal-hal secara positif sebagaimana adanya. Ini tidak menghalangi penerapan sanksi yang keras atau kejam.

  • Anda tidak punya hak untuk membentak orang tuamu, tutup mulutmu!
  • Ibarat sapu ijuk, rambutmu keras dan kusam.
  • Anda tidak tahu berterima kasih, sudah menerima banyak bantuan dan masih melawan.
  • Saya tidak suka dengan perilaku santai Anda ketika guru menjelaskan materi kepada Anda.
  • Anda sangat manja sehingga Anda meminta bantuan dengan hal-hal sederhana seperti itu.
  • Tidak ada gunanya memiliki tetangga, jika hal seperti ini saja tidak ada yang membantu.
  • Makanan ini tidak enak dimakan! Apakah Anda belum mencobanya? 
  • Aku lelah dengan caramu memperlakukanku.
  • Sebaiknya sumbangkan saja sepeda motor lama Anda ke museum.
  • Tidak tahu cara menyikat gigi? Nafasmu berbau seperti naga.

Perbedaan Majas Sinisme & Sarkasme

Majas sinisme dan sarkasme memang terlihat sangat mirip hingga sulit membedakannya. Namun, terdapat perbedaan yang cukup jelas pada tahap akhir penyampaian pesan tersebut. Sinisme didefinisikan sebagai “sindiran dalam bentuk keraguan yang menyiratkan penghinaan terhadap ketulusan”. Majas ini merupakan hasil dari adanya majas ironi, namun memiliki definisi yang lebih rumit daripada ironi. 

Baca Juga : Kawuk Binatang Unik Di Nusakambangan

Perbedaan majas Sinisme & Sarkasme terlihat dari tidak adanya ketulusan atau point positif.  Ketika sinisme meningkat, rangkaian kata atau frasa bisa menjadi sarkastis. Kata sarkasme berasal dari kata kerja sakasein, yang berarti “mencabik daging seperti anjing”, “menggigit bibir karena marah” atau “berbicara dengan kejam”. Maka tidak heran jika majas sarkasme berarti “referensi yang mengandung kepahitan dan kritikan yang pedas”. 

Nah, kira-kira majas apa nih yang sering Anda gunakan atau tak sengaja mengucapkannya? Apapun itu, jangan lupa untuk memikirkannya terlebih dahulu sebelum mengucapkan kepada orang lain. Hal ini untuk menghindari adanya kesalahpahaman yang dapat merusak komunikasi.

Leave a Comment