4 Pembagian Kasta di Bali Beserta Sejarah Singkat

Provinsi Bali dikenal sebagai wilayah dimana mayoritas penduduknya beragama Hindu. Anda mungkin sudah cukup familiar dengan pembagian kasta di Bali. Namun, sistem kasta Hindu di Bali lebih sederhana daripada sistem kasta Hindu di India.

Lebih jauh lagi, pembagian sistem kasta di Bali tidak menghalangi aktivitas sosial. Apalagi, masyarakat Indonesia memandang wilayah Bali dengan tingkat toleransi yang tinggi. Toleransi ini meluas ke umat Hindu Bali dan komunitas agama lainnya.

Sejarah Kasta di Bali

Pada akhir abad ke-14, pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Hindu Majapahit, kasta pertama kali diidentifikasi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kasta baru sudah dikenal ketika kerajaan jatuh. Fakta bahwa Patih Gajah Mada dilahirkan dalam keluarga yang bukan seorang brahmana atau ksatria adalah bukti yang mendukung.

Indikasi lain adalah fakta bahwa penggembala kuda Damar Wulan berhasil beradaptasi dengan kehidupan di Majapahit dan mengubah namanya menjadi Brawijaya. Selain itu, Mpu Sendok, seorang Brahmana, memiliki seorang putra yang tumbuh menjadi seorang ksatria.

Pembagian kasta di Bali berasal dari masa ketika wilayah tersebut masih menjadi rumah bagi kerajaan-kerajaan kecil. Sistem kasta yang digunakan Belanda untuk membagi masyarakat didasarkan pada ajaran Catur Warna, dengan tujuan membuat perpecahan di masyarakat pada waktu itu.

Akibatnya, masyarakat etnis Bali sulit membedakan antara kasta dan ajaran Catur Warna. Orang-orang yang dianggap milik kasta tinggi tidak menyadari kesalahpahaman saat mereka tumbuh dewasa.

Pembagian Kasta di Bali

Pada umumnya sistem kasta Bali terbagi menjadi empat kasta, yaitu:

1. Brahmana

Dalam sistem kasta Bali, Brahmana adalah kasta tertinggi. Seorang pemimpin dalam agama Hindu atau ahli keduanya umumnya ada pada tingkat ini. Dengan melakukan ritual keagamaan, para pemuka agama ini memenuhi kewajibannya. Anggota kasta Brahmana bisa laki-laki atau perempuan. 

Sebagian besar anggota kasta ini disebut Ida Bagus untuk anak laki-laki dan Ida Ayu untuk anak perempuan. Kata “i” dan “Ni” otomatis berubah untuk anggota kasta Brahmana dengan kata sifat “Bagus”, yang berarti ganteng, dan “Ayu”, yang berarti cantik.

2. Ksatria

Pembagian kasta di Bali berikutnya yaitu kasta ksatria. Mereka yang bekerja untuk kerajaan sebagai senopati, tentara atau prajurit lainnya secara khusus dikaitkan dengan kasta ksatria. Biasanya, anggota kasta ini disebut Anak Agung, Cokorda atau Gusti.

3. Wasya

Kasta wasya berkembang menjadi sejenis kasta yang dapat diperoleh oleh orang-orang yang bekerja di sektor komersial. Pada hakikatnya yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang berperan penting sebagai mesin ekonomi kerajaan atau negara.

Nama-nama seperti Dewa, Desak, Ngakan, Kompyang, Sang dan Si digunakan untuk mengidentifikasi kasta Waisya, yang merupakan keturunan pedagang dan pengusaha pada masa kerajaan.

4. Sudra

Sudra diklasifikasikan sebagai kasta keempat atau terendah dalam pembagian kasta di Bali. Melayani ketiga kasta di atas adalah tujuan utama dari keberadaan kasta Sudra. Orang yang termasuk dalam kasta ini umumnya bekerja sebagai petani atau para buruh (menurut masa kini). 

Tanpa gelar khusus, nama Sudra biasanya diurutkan berdasarkan kelahiran, dengan Wayan untuk anak pertama, Made untuk anak kedua, Nyoman untuk anak ketiga, dan Ketut untuk anak keempat.

Baca Juga : 7 Tempat Nongkrong Malam di Bali Yang Populer Dan Cozy!

Demikianlah informasi seputar kasta di Bali yang mungkin kerap kali Anda temui jika berlibur ke Pulau Dewata. Walaupun sistem kasta tidak seketat pada zaman dahulu, namun masyarakat Bali tetap mengikuti tradisi pembagian kasta. Hal ini merupakan usaha mereka untuk menjaga budaya dari para leluhurnya.

Leave a Comment